Tebu Manten
Ratusan warga memadati kompleks Pabrik Gula/Pabrik Spiritus Madukismo, Bantul, DI Yogyakarta, untuk menyaksikan tradisi tahunan Tebu Manten sebagai penanda dimulainya musim giling. Dalam prosesi tersebut, dua ikat batang tebu terbaik bernama Nyai Pethak dan Kyai Tumpak dihias layaknya pengantin Jawa, dikirab menggunakan kereta kuda, lalu dinikahkan secara simbolis sebagai bentuk doa dan harapan akan hasil panen yang melimpah, keselamatan pekerja, serta kelancaran produksi gula selama musim giling berlangsung. Tradisi yang telah lama dijaga berbagai pabrik gula di Jawa ini juga menjadi simbol penghormatan terhadap kerja keras para petani dan pekerja tebu dari masa tanam hingga panen.
BUDAYA
Ferganata Indra Riatmoko
4/26/20261 min read


Nyai Pethak dan Kyai Tumpak
Ratusan warga tak menghiraukan cuaca panas terik dan tetap berusaha mendekat ke kereta kuda yang digunakan untuk mengangkut sepasang pengantin yang berwujud dua ikat batang tebu di kompleks Pabrik Gula/Pabrik Spiritus Madukismo, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (11/4/2026). Kedua ikat batang tebu itu dihias dengan topeng wajah pengantin pria dan wanita serta busana khas mempelai dalam tradisi Jawa.
Semua mata pun menatap terpana kepada kedua "pengantin tersebut. Tebu Temanten perempuan dalam acara ini dinamai Nyai Pethak dan diambil dari wilayah Sleman sedangkan tebu laki-laki yang dinamai Kyai Tumpak diambil dari wilayah Magelang.
Nyai Pethak dan Kyai Tumpak adalah tokoh utama dalam tradisi Tebu Manten ini. Keduanya merupakan tebu terbaik yang diharapkan akan beranakpinak dengan kualitas istimewa pada musim giling tahun ini.
Setelah dikirab dan dinikahkan secara simbolis, Nyai Pethak dan Kyai Tumpak dibawa menuju bagian dalam pabrik yang didirikan pada tahun 1955 ini. Hujan deras yang mendadak mengguyur tidak mengurangi pelaksanaan tradisi di dalam kompleks pabrik itu.
Tradisi tahunan ini diselenggarakan untuk mengawali musim giling PG/PS Madukismo. dan memohon keselamatan serta kelancaran agar masa produksi selama sekitar enam bulan mendatang dapat menghadirkan hasil maksimal. Menurut Ketua Panitia Suhadi, Tebu Manten merupakan representasi kerja keras divisi bagian tanaman, mulai dari menanam, memelihara, hingga menebang.
Tradisi Tebu Manten lazim dilaksanakan oleh berbagai pabrik gula di Pulau Jawa setiap awal musim giling tiba. Selain sebagai wujud syukur, tradisi tersebut juga untuk memohon keselamatan bagi para pekerja selama mengolah tebu.
PG/PS Madukismo pada tahun ini memasang target mengolah tebu sebanyak 4,8 juta kuintal. Melalui Tebu Manten, target tersebut diharapkan tercapai tanpa menghadapi kendala apa pun.




















