Suku Bajo - Identitas yang Hilang

Gambaran perubahan besar yang dialami masyarakat Bajo, kelompok “gipsi laut” yang selama berabad-abad hidup berpindah di perairan Indonesia, Filipina, dan Malaysia dengan laut sebagai rumah sekaligus identitas budaya mereka. Dikenal memiliki kemampuan menyelam tanpa peralatan dan ikatan spiritual yang kuat dengan laut, kehidupan suku Bajo kini perlahan berubah sejak hadirnya program pemukiman permanen di daratan pada akhir 1980-an. Generasi muda mulai meninggalkan tradisi hidup nomaden, sementara nilai-nilai, tabu adat, dan pengetahuan leluhur tentang laut perlahan memudar. Di tengah perubahan itu, muncul kekhawatiran bahwa identitas Bajo tidak hanya sedang berubah, tetapi juga terancam hilang bersama hubungan sakral mereka dengan lautan.

BUDAYA

Ulet Ifansasti

4/23/20261 min read

Suku Bajo - Identitas yang Hilang

Selama berabad-abad, suku Bajo secara tradisional hidup di laut lepas, menghabiskan sebagian besar kehidupan nomaden mereka di atas perahu atau di gubuk-gubuk lepas pantai yang ditopang oleh tiang-tiang kayu yang ditancapkan ke dasar laut. Komunitas Bajo yang dikenal sebagai ‘gipsi laut’ tersebar di perairan lepas pantai Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 180.000 orang Bajo yang tersebar di 14 provinsi. Mereka terkenal karena kemampuan menyelam tanpa peralatan.

Suku Bajo yang kita lihat saat ini bukanlah suku Bajo yang kita kenal dulu; banyak dari mereka telah kehilangan identitasnya. Sebelum budaya Bajo semakin memudar atau bahkan lenyap sepenuhnya, para pendukung kelestariannya berharap generasi muda akan tetap ingin mempertahankan ikatan dengan laut meskipun mereka mengadopsi gaya hidup yang lebih menetap.

Mereka percaya ada ikatan spiritual yang mendalam antara suku Bajo dan lautan, serta bahwa tabu-tabu komunitas harus dijaga agar tidak memancing kemarahan roh laut. Mereka khawatir generasi muda gagal mengikuti aturan atau bahkan sepenuhnya melupakan apa yang dianggap menyinggung.

Secara tradisional, suku Bajo hanya mendarat di daratan untuk berdagang atau berlindung dari badai. Namun, sejak akhir 1980-an, Indonesia mulai membangun pemukiman di daratan untuk suku Bajo dan meningkatkan layanan yang tersedia bagi mereka, yang menyebabkan semakin banyak dari mereka mengadopsi pendekatan hibrida, membagi waktu antara kehidupan menetap di daratan dan kehidupan di laut. Beberapa di antaranya bahkan telah sepenuhnya meninggalkan kehidupan di laut.