Ketika Sungai Membawa Gunung Turun

Hujan deras yang mengguyur puncak Gunung Merapi pada 3 Maret 2026 mengubah aliran Sungai Senowo di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, menjadi arus lahar hujan yang membawa material vulkanik dari lereng gunung. Dalam hitungan menit, kawasan penambangan pasir yang biasanya ramai oleh truk pengangkut berubah menjadi lokasi bencana. Tiga truk terseret arus deras, dua belas lainnya terjebak dan tertimbun material, sementara dua alat berat ikut terkubur di tengah aliran sungai. Tim SAR gabungan melakukan pencarian dengan anjing pelacak K9 dan drone di antara tumpukan pasir dan batu. Seorang penambang muda berusia 21 tahun ditemukan tewas, sementara enam orang lainnya mengalami luka-luka dan empat orang hilang. Banjir lahar di Sungai Senowo membawa gunung turun ke sungai, dan mengubah tempat mencari nafkah menjadi ruang duka dalam sekejap.

LINGKUNGAN

Andreas Fitri Atmoko, Devi Rahman, Ferganata Indra Priatmoko, Guntur Aga Tirtana, Kasan Kurdi

3/7/20261 min read

Ketika Sungai Membawa Gunung Turun

Hujan deras yang mengguyur puncak Gunung Merapi pada 3 Maret 2026 mengubah aliran Sungai Senowo di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, menjadi arus lahar hujan yang membawa pasir, batu, dan material vulkanik dari lereng gunung. Sungai ini selama bertahun-tahun menjadi ruang kerja bagi para penambang pasir yang menggantungkan penghidupan dari material vulkanik Merapi. Namun dalam hitungan menit, kawasan penambangan yang biasanya dipenuhi deru mesin dan antrean truk berubah menjadi kepanikan ketika arus keruh dan deras turun tiba-tiba dari hulu.

Tiga truk terseret arus, dua belas lainnya terjebak dan tertimbun material, sementara dua alat berat ikut terkubur di tengah aliran sungai. Tim SAR gabungan kemudian menyisir area terdampak menggunakan anjing pelacak K9 dan drone, menelusuri tumpukan pasir dan batu yang menutup sebagian badan sungai. Di tempat yang sama, para penambang yang selamat hanya bisa menunggu di tepi sungai, menyaksikan alat kerja dan sumber penghidupan mereka terkubur oleh material yang sebelumnya mereka cari setiap hari.

Seorang penambang muda berusia 21 tahun ditemukan meninggal dunia, enam orang mengalami luka-luka, dan empat orang sempat dilaporkan hilang. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bisnis penambangan pasir di lereng Merapi selalu berjalan berdampingan dengan risiko alam, terutama ketika cuaca di kawasan gunung semakin sulit diprediksi. Hujan yang turun di puncak bisa dengan cepat berubah menjadi lahar di hilir—membawa gunung turun ke sungai dan mengubah tempat mencari nafkah menjadi ruang duka dalam sekejap.