Ina Lefa (Ibu Laut)
Laut Sawu bagi masyarakat Lamalera di Nusa Tenggara Timur bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan “Ina Lefa” atau Ibu Laut yang dihormati secara turun-temurun. Tradisi berburu paus menggunakan Peledang dan Tempuling diwariskan dari leluhur, sebagaimana tergambar dalam syair “Ama gene ola, Ola kae kode kai” — leluhur mewariskan tradisi ini, dan kami melakukannya untuk menghormati mereka. Namun masuknya teknologi modern perlahan mengubah pola hidup masyarakat Lamalera, menggeser nilai kebersamaan, tradisi melaut, serta hubungan spiritual mereka dengan laut yang selama ini menjadi identitas utama anak-anak laut Lamalera.
BUDAYA
Arnold Simanjuntak
4/23/20261 min read
Ina Lefa (Ibu Laut)
Laut Sawu menjadi sumber kehidupan utama bagi masyarakat Lamalera di Nusa Tenggara Timur. Selama ratusan tahun, masyarakat Lamalera memandang laut sebagai “Ina Lefa” atau Ibu Laut, sosok yang memberi kehidupan, pangan, dan keseimbangan bagi anak-anaknya. Hubungan spiritual dengan laut diwariskan turun-temurun melalui tradisi berburu paus menggunakan Peledang, perahu layar tradisional, dan Tempuling, tombak panjang yang digunakan oleh Lamafa, sang penombak utama sekaligus pemimpin pelayaran. “Ama gene ola, Ola kae kode kai” — leluhur mewariskan tradisi ini, dan kami melakukannya untuk menghormati mereka — menjadi syair yang biasa dinyanyikan anak-anak laut Lamalera setiap kali pergi berburu ikan besar.
Koteklema — paus sperma dan pari manta — merupakan tangkapan utama mereka, bersama hiu, lumba-lumba, tuna, ikan terbang, dan berbagai jenis ikan lain yang hidup di laut dalam maupun kawasan terumbu karang. Namun, perubahan mulai terjadi sejak tahun 1990-an ketika teknologi modern seperti perahu motor dan jaring trawl diperkenalkan. Kehadiran teknologi mengubah pola hidup masyarakat Lamalera yang sebelumnya hidup secara kolektif dan saling bergantung. Sistem barter perlahan tergantikan oleh transaksi uang, sementara Peledang kini lebih sering tersandar di pantai.
Perubahan ini tidak hanya menggeser cara menangkap ikan, tetapi juga perlahan mengikis nilai budaya, solidaritas, dan hubungan sakral masyarakat dengan laut. Di tengah modernisasi dan berbagai persoalan hidup seperti krisis air bersih serta keterbatasan fasilitas dasar, masyarakat Lamalera terus berjuang mempertahankan identitas dan tradisi mereka sebagai anak-anak laut.
























